Halloween party ideas 2015
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan



Sukoharjo, el-taqwa.com - Tak kurang dari ratusan rumah di Kabupaten Sukoharjo pada Senin 28 November 2016 dilanda banjir yang cukup parah.

Sebagai wujud pengamalan sunah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, Barang siapa tidak menyayangi maka tidak disayangi," Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo mengirim kontingen untuk membersihkan rumah-rumah warga korban banjir Sukoharjo 2016.


Total dua rumah berhasil dibersihkan oleh kontingen PPTQ At-Taqwa Peduli Banjir Sukoharjo 2016, yaitu rumah Ust Hasan (imam masjid di Desa Pranan, Grogol Sukoharjo) dan rumah Ust Aswad (imam masjid Istiqamah, Desa Pandean, Grogol Sukoharjo).

Tim PPTQ At-Taqwa Peduli Banjir Sukoharjo 2016 terdiri atas enam staf pengajar, termasuk Kiai PPTQ At-Taqwa langsung yaitu Ust Uwais Abdullah, beserta sembilan santri kelas akhir.


__"Sudah selayaknya kita membantu saudara-saudara kita yang ditimpa musibah banjir, karena Rasulullah bersabda, 'Barangsiapa tidak menyayangi, mala tidak disayangi,"_ (HR Muslim)," ujar Ust Uwais Abdullah.

"Hari ini Allah memberi pertolongan kepada korban banjir melalui santri-santri dan asatizah ini, dan bisa saja kelak ketika kita ditimpa musibah, Allah akan memberi pertolongan melalui mereka,"__ imbuhnya.


Sukoharjo, El-Taqwa.Com- Setelah sukses menggelar Idul Adha 1437 H dengan menyembelih satu sapi dan enam kambing di tanggal 10 dan 11 Zulhijjah 1437 H, santri-santri Pondok Pesantren Tahfizhul Quran (PPTQ) At-Taqwa menggelar hajatan baru di tanggal 12 Zulhijjah 1437 H.

Dalam rangka mengisi hari-hari tasyriq dengan beragam amal saleh, PPTQ At-Taqwa Sukoharjo, khususnya Bagian Tahfizh, menggelar Musabaqah Hifzhul Quran-MHQ (lomba hafalan quran) pada hari Rabu tanggal 14 September 2016.

Diselenggarakan serempak di dua tempat yang berbeda, unit putra dan unit putri, MHQ 1437 H menggelar dua kategori lomba, yakni kategori 2 Juz dan 5 Juz, dengan total peserta sebanyak 14 santri putra dan 17 santri putri.

Ust Adib Burhani, Lc, selaku Direktur PPTQ At-Taqwa dalam sambutannya, menyampaikan bahwa menghafal Quran adalah perkara yang penting, bahkan disebutkan bahwa Imam An-Nawawi tidak bersedia mengajarkan hadis kepada murid-murid beliau yang belum tuntas menghafal Al-Quran.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa para salaf yang saleh pun memiliki kebiasaan untuk berlomba-lomba dalam menghafal Al-Quran.

“Hanya saja yang perlu diingat, dulu para salaf bukan hanya berlomba-lomba dalam menghafal Al-Quran, tetapi mereka juga berlomba-lomba dalam mengamalkannya,” lanjutnya.

“Oleh karena itu perlu saya tegaskan di sini bahwa lomba ini ada kelanjutannya, yaitu bagaimana kita mengamalkan Al-Quran, sembari kita berusaha menghafalkannya dan hari ini melombakannya.”


Muncul sebagai juara kategori 2 juz putra adalah ananda Haidar, Fardan, dan Abdurrahman Al-Ghozi, sedang untuk kategori 5 juz, juara pertama jatuh kepada ananda Syahid Abdullah, diikuti oleh ananda Arfan di peringkat kedua dan ananda Zahid Abdullah di peringkat ketiga.

Untuk kelas putri, juara pertama hingga ketiga kategori 2 Juz Putri jatuh kepada ananda Siti Hajar, Zulfa Nur Al-Jannah, dan Arini Dina Hanifah; sedang untuk kategori 5 Juz Putri, juara pertama dipegang oleh Fida’ Faizatul Ulya, diikuti ananda Hisan Husnayain sebagai juara kedua dan ananda Zainab Zuhdiyah sebagai juara ketiga.





Musabaqah Hifzhul Quran PPTQ At-Taqwa 1437 H ditutup dengan tausiyah singkat dari pengasuh PPTQ At-Taqwa Sukoharjo, Ust Uwais Abdullah, Lc. Di awal-awal tausiyahnya, Ust Uwais menyampaikan sabda Nabi ﷺ:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

“Yang menjadi imam dari suatu kaum adalah orang yang paling banyak hafalannya terhadap Kitab Allah (Al Qur’an),” (HR Muslim).

“Hari ini, banyak orang-orang yang paham ilmu syar’i tetapi belum tuntas menghafal Al-Quran. Oleh karena itu, jadilah kalian ini nanti orang yang bukan hanya paham terhadap ilmu-ilmu syar’i, tetapi juga menjadi pengemban Al-Quran,” ujar beliau.

“Pengemban di sini bukan hanya sekedar menghafal tentunya, tetapi mengamalkannya, sehingga terwujud di dalam tindak tanduk kita. Itulah kenapa PPTQ At-Taqwa memiliki visi, ‘Mencetak Hafiz dan Hafizah yang berakhlak salaf dan mampu berbahasa Arab.’”

“Kalau kalian hari ini belajar di Pondok Pesantren At-Taqwa agar bisa mahir di dalam ilmu komputer, atau agar bisa menjadi dokter, bukan di sini tempatnya, karena di sini kita ingin ‘Mencetak hafiz dan hafizah yang berakhlak salaf dan mampu berbahasa Arab.”


Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Wa lilaahil hamd...

Suara gema takbir menggemuruh di malam 10 Zulhijjah 1437 H di seantero dunia, termasuk di Masjid Pondok Pesantren Tahfizhul Qur'an (PPTQ) At-Taqwa Sukoharjo.

Malam itu selepas salat Isya, sebuah truk tiba-tiba memasuki kompleks PPTQ At-Taqwa membawa seekor sapi udhiyah (hewan kurban). Pengemudi truk, kepada ustadz di PPTQ At-Taqwa, mengatakan bahwa sapi tersebut adalah udhiyah dari keluarga Bapak Didit yang berdomisili di Solo.

"Alhamdulillah..." Sontak para santri berujar pelan, ada pula yang berteriak kegirangan bahwa Idul Adha tahun ini ada daging sapi untuk dinikmati.

Kedatangan sapi udhiyah Bapak Didit ini menggenapi enam ekor kambing yang baru saja tiba di sore Hari Arafah 1437 H. Enam kambing tersebut merupakan udhiyah dari beberapa warga, ustadz, dan wali santri, seperti Ust Syafiq, Bp. Satiman, Bp. Yato, dan Bp. Firmansyah.


Hari yang dinanti akhirnya tiba juga. Pagi sebelum subuh para santri sudah mulai bersih-bersih diri, mandi dan berdandan untuk menghadiri Salat Iedul Adha bersama masyarakat Desa Pengkol.


Berjalan rapi dalam dua barisan, mereka menuju lapangan sepak bola Desa Pengkol dengan mengumandangkan gema takbir. Hadir di dalam Salat Iedul Adha kali itu adalah Ust Nashirudin Abdul Halim (pengasuh Ponpes Miftahul Huda Boyolali) sebagai khatib dan imam.


Selepas salat, dua kambing langsung disembelih oleh Ust Uwais Abdullah, Lc yang merupakan pengasuh PPTQ At-Taqwa Sukoharjo, satu kambing lainnya disembelih bersama masyarakat, sedang tiga lainnya disembelih pada tanggal 11 Zulhijjah 1437 H untuk haflah (pesta) para santri.

Semua ustadz dan santri tidak ada yang berleha-leha di hari itu. Apalagi ketika sapi udhiyah Bp. Didit itu akhirnya disembelih. Allahu Akbar.. Tampak santri yang kecil-kecil itu antusias merubuhkan sapi yang hendak disembelih.

"Bismillahi wallahu akbar.. Allahumma hadza minka wa laka hadza an Didit. Allahumma taqabal min Didit wa aali Didit..." demikian ucap Ust Uwais ketika hendak menyembeli hewan kurban tersebut.

"Allahu Akbar...!" teriak para santri menyambut goresan pedang Ust Uwais Abdullah.

Tak lama setelah memastikan hewan udhiyah itu benar-benar telah mati, semua santri bekerja sama bahu membahu dengan para ustadz untuk menguliti, mencacah, dan membungkusi daging kurban tersebut.


Kalau bukan karena kuasa Allah, siapa yang mengira bahwa santri-santri kecil itu beserta para ustadz sanggup bekerja sampai menjelang magrib, lalu dilanjutkan dengan bersih-bersih kompleks selepas salat Isya.

Teringat firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلٰكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلٰكِنَّ اللَّهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِىَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui," [QS. Al-Anfal: 17].


Bukan santri yang hebat, bukan pula ustadz yang kuat, tetapi Allah yang membuat mereka sanggup mengolah kambing-kambing dan sapi tersebut.

Allahu Akbar... Wa lilaahil hamd...

Alhamdulillah.. Seluruh daging udhiyah itu akan menjadi cadangan lauk pauk para santri selama beberapa pekan mendatang.

Seluruh santri merasa bahagia dengan "perbaikan gizi" dalam beberapa pekan ke depan. Semoga Allah menerima udhiyah para mudhokhi. Aamiin...

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۚ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik," [QS. Al-Hajj: 37]


Masyarakat di zaman jahiliah menganggap matahari sebagai Tuhan, maka wajar jika mereka menyembah matahari.

Di zaman Nabi صلى الله عليه وسلم, gerhana matahari terjadi bertepatan dengan meninggalnya putra beliau Ibrahim.

Maka masyarakat di zaman itu menganggap gerhana matahari disebabkan oleh kematian atau kelahiran seseorang.

Mendengar hal itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:


إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ 
مِنْ النَّاسِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَقُومُوا فَصَلُّوا

“Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seorang dari manusia, tetapi keduanya adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian melihat gerhana keduanya maka berdirilah untuk shalat,” (HR Bukhari).

Jika di zaman dulu masyarakat merasa takut dengan gerhana matahari, tetapi di zaman ini, gerhana matahari justru dijadikan ajang hura-hura, pesta, festival dan maksiat.

Nauzubillah...

Simak khutbah lengkap Shalat Gerhana Matahari 2016 oleh Ust Adib Burhani, Lc, Direktur Pondok Pesantren Tahfizul Quran At-Taqwa Sukoharjo.

Download di sini:

DROPBOX


Nguter, Sukoharjo- Yayasan Islam At-Taqwa Nguter, sebagai induk dari Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Nguter, menggelar seminar bertajuk "Masa Depan Cerah Penghafal Quran" pada Rabu, 14 Oktober 2015.

Turut hadir pada acara tersebut sebagai pembicara utama adalah Ust Syarqun Al-Faruq Al-Hafidz selaku Direktur Islamic Center I'daduduat Isykarima, dan Ust Nashiruddin Abdulhalim selaku Direktur Ponpes Miftahul Huda, Boyolali.

Di dalam pemaparannya, Ust Syarqun menjelaskan tentang urgensi dan keutamaan menjadi Ahlul Quran. Ustadz yang mengambil sanad Quran di Mesir ini menyebut "Guru Ngaji" sebagai profesi terbaik di dunia, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Quran dan mengajarkannya," [HR Bukhari].

Akan tetapi sayang, imbuh beliau, banyak orang tua yang masih khawatir dengan duniawi anak jika keturunan mereka terfokus menggeluti urusan Quran.

"Bahkan ada beberapa orang tua yang menyekolahlan anak-anaknya di TK negeri, SD negeri, SMP negeri, SMA negeri, kampus negeri, agar kelak anak mereka menjadi Pegawai Negeri Sipil.

"Bukan berarti PNS itu profesi yang hina, tetapi jika seorang PNS atau apapun profesinya, jika ia kosong dari nilai-nilai Al-Quran, maka nihil pula kemuliaannya di sisi Allah," ujarnya.

Penuturan yang sama juga disampaikan oleh Ust Nashiruddin Abdulhalim. Di kesempatan tersebut, pengampu rubrik kajian Bahasa Jawa di salah satu radio dakwah lokal ini menyampaikan tentang peran orang tua terhadap pendidikan Al-Quran kepada anak-anaknya.

Menurut beliau lahirnya para penghafal adalah ancaman nyata bagi musuh-musuh Islam. Oleh karena itu, para musuh ini akan senantiasa membuat upaya sistematis dan berkesinambungan agar umat Islam menjadi jauh dari Al-Quran.

Di sisi yang lain, para musuh Islam yang menyadari hal tersebut justru merujuk kepada Al-Quran. Mereka mempelajarinya secara mendalam untuk menguasai dunia karena mereka sadar bahwa Al-Quran adalah sumber dari segala ilmu sehingga dengannya mereka bisa menguasai dunia.

Margareth Teacher, tokoh imperialis barat, mengatakan, "Jangan berharap mampu menguasai dunia jika di tangan kanan umat Islam masih memegang Tauhid dan Jihad, dan di tangan kiri mereka memegang Al-Quran."

"Maka wajar jika generasi terbaik umat ini, yakni zaman sahabat Radhiyallahuanhuma, selalu menjaga lima amalan yang tak akan pernah mereka lewatkan, salah satunya adalah melazimi Al-Quran," ujarnya mengutip perkataan Imam Al-Auzai Rahimahullah.

"Oleh karena itu, orang tua yang hebat akan menjadikan Quran sebagai landasan bagi kehidupan anak-anak mereka," tutup beliau di akhir sesi menjelang shalat Dzuhur.

MI Plus At-Taqwa Nguter Luncurkan Kelas Tahfidz
Ustadz Sukiyono, selaku ketua Yayasan Islam At-Taqwa Nguter, menjelaskan bahwa seminar "Masa Depan Cerah Penghafal Quran" digelar sebagai peluncuran program Kelas Tahfidz di MI Plus At-Taqwa Nguter, Sukoharjo.

"Tahun ajaran depan kita akan membuka Kelas Tahfidz di MI. Siswa yang memiliki minat dan kemampuan yang mumpuni untuk menghafal Al-Quran akan mendapat perlakuan spesial berupa penambahan jam-jam tahfidz di samping materi-materi pelajaran umum," ungkapnya.

"Dengan adanya program ini, kami berharap agar ketika mereka lulus dari MI At-Taqwa, mereka akan memiliki minimal 6 juz hafalan Quran untuk kemudian diselesaikan di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Nguter, Sukoharjo," pungkasnya.

Seminar "Masa Depan Cerah Penghafal Quran" dihadiri oleh sekitar 1000 orang, terdiri dari wali santri PPTQ At-Taqwa Nguter Sukoharjo dan juga wali murid MI Plus At-Taqwa, dan tiga TKIT At-Taqwa.




Sukoharjo, El-Taqwa.Com- Pagi yang cerah di hari Sabtu, 21 Maret 2015, ketika sebuah SMS yang masuk di pagi hari bakda Shalat Subuh itu ternyata pemberitahuan bahwa ada seorang Hamba Allah yang menyumbang Rp5 juta untuk pembangunan Kantor Guru Putra dan Ruang Kelas baru di Pondok Pesantren Tahfizul Quran At Taqwa, Nguter Sukoharjo.

Donasi amal jariyah tersebut menyusul dua donasi sebelumnya tertanggal 18 Februari 2015 senilai Rp20 juta dari Ibu Nurbaiti Lubis, SH dan dari seorang Hamba Allah lainnya pada 4 Maret 2015 senilai Rp5 juta.
من دل على خير فله اجره..

Barang siapa merekomendasi suatu Amal kebajikan, maka bagi bagi dia pahala orang yang mengerjakan.

Yuk rekomendasikan kepada para muhsinin dan aghniya, untuk menyalurkan dananya ke pembangunan Pondok Pesantren Tahfizul Quran At-Taqwa Nguter, Sukoharjo, agar Anda juga dapat pahala.

Caranya mudah. Bantu kami dalam menyebarkan proposal pembangunan Pondok Pesantren Tahfizul Quran At Taqwa Nguter kepada muhsinin bidikan Anda.

Bagi yang berminat menyalurkan batuan dalam bentuk apapun, (dana, kayu, genteng, batu, pasir dan lain sebagainya) bisa menghubungi koordinator umum:

Ust. Abu asykar
+6287736406915

Ust. Abu Saamy 
085867791809

No Rek BRI. 691301000654503 an. Lukman Al Azhar

Apapun yang ikhwan/akhwat perbantukan untuk Pondok Pesantren Tahfizul Quran At Taqwa Nguter, semoga menjadi Amal Jariyah.

Setiap lantunan ayat yang dihafal dan dibaca  oleh anak-anak kami, menggunakan sarana dari bantuan antum sekalian, semoga pahalanya akan selalu mengalir.!

Barakallahu lakum fi ahlikum wa maalikum.


Dir. 'Aam
Uwais Abdullah, Lc


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Mohon do'a dan dukungan ikhwan akhwat sekalian..
Mengingat jumlah santri yang semakin bertambah, In sya Allah kami dari Pondok Pesantren Tahfizul Quran Attaqwa, akan memulai pembangunan tahap kedua.

Semoga dengan dengan pengadaan ruang kelas dan kantor, kegiatan tahfiz Qur'an dan belajar mengajar dapat berjalan lancar.
Bagi yang berminat menyalurkan batuan dalam bentuk apapun, (dana, kayu, genteng, batu, pasir dan lain sebagainya) bisa menghubungi koordinator umum:
Ust. Abu asykar
+6287736406915
Ust. Abu Saamy 085867791809
No Rek BRI. 691301000654503 an. Lukman Al Azhar

Apapun yang ikhwan/akhwat perbantukan untuk Pondok Pesantren Tahfizul Quran At Taqwa Nguter, semoga menjadi Amal Jariyah.

Setiap lantunan ayat yang dihafal dan dibaca  oleh anak-anak kami, menggunakan sarana dari bantuan antum sekalian, semoga pahalanya akan selalu mengalir.!

Barakallahu lakum fi ahlikum wa maalikum.
Dir. 'Aam
Uwais Abdullah, Lc


Sukoharjo, El-Taqwa.Com- Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At Taqwa sukses menggelar Bedah Buku "Gerakan Hutsi" karya Mahasiswa Indonesi di Yaman, Ust Abu Zubair Abdullah Al Majdi dan Tabligh Akbar bertajuk, "Ancaman Syiah terhadap Nusantara."

Didukung sepenuhnya oleh Takmir Masjid Taqwa Desa Karangasem dan seluruh Pejabat Pemerintah Desa Karangasem, Kec. Bulu, Kab. Sukoharjo, acara tersebut dihadiri oleh sekitar 700 peserta yang berasal dari kawasan Sukoharjo, Klaten, Wonogiri, dan Jogja.

Meski bertempat di pedalaman yang jauh dari akses transportasi publik, animo masyarakat untuk mengetahui manuver-manuver Syiah di dunia, khususnya di Indonesia begitu besar.

Angga misalnya, karyawan di salah satu BUMN di Surakarta ini bahkan harus bertanya beberapa kali untuk bisa mencapai lokasi tabligh akbar.

"Alhamdulillah, setelah tanya warga lima kali akhirnya nyampe juga, Mas. Temanya itu bikin penasaran. Apa iya ribuan pencari suaka itu memang benar-benar Syiah. Saya ingin tahu jawabannya," demikian ujar Angga kepada tim web El-Taqwa.com.

Rasa penasaran Angga dan mungkin juga ratusan peserta tabligh akbar lainnya baru terjawab di akhir acara ketika sesi tanya jawab bersama kedua pemateri.

Menurut hasil investigasi tim Ust Tengku Azhar Lc, para pencari suaka asal Afghanistan dan Iran yang berada di Medan sudah berani menghina umat Islam Sunni di pasar-pasar setempat.

"Ente Sunni??! Ente Sunni??! Hmm!!! (Sambil menunjukkan jempol ke bawah)," demikian ujar Ust Tengku Azhar, Lc memperagakan salah satu temuannya di lapangan.

Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa potensi pecah perang antara Sunni (umat Islam) melawan Syiah begitu besar. Mengutip pernyataan Habib Ahmad bin Zein Al Kaaf - pengurus PWNU dan MUI Jawa Timur, Ust Tengku Azhar mengatakan bahwa di Jawa Timur, baik Sunni maupun Syiah sudah sama-sama mengasah pedang.

"Tinggal nunggu aja itu di Jatim, dua atau lima tahun lagi mungkin," imbuh relawan Hilal Ahmar Society di Suriah tersebut.


Di akhir acara, pembicara mengaku berterima kasih kepada Pejabat Pemerintah Desa Karangsem yang sangat mendukung acara tersebut.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada Pak Kepala Desa yang begitu mendukung acara ini. Bukannya takut perang, tidak. Hanya saja, kita bisa menepis potensi perang Sunni versus Syiah jika saja seluruh pejabat pemerintahan mau membuka mata terhadap bahaya Syiah," ucap Ust Tengku di sesi penutup. (Irfan/Mukminuncom)



Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At Taqwa Nguter, bekerja sama dengan Takmir Masjid At Taqwa Karangasem, Kec. Bulu, Kab. Sukoharjo, menggelar acara:

1. Bedah Buku "Gerakan (Syiah) Hutsi"
Bersama Penulis dan Peneliti Gerakan (Syiah) Hutsi di Yaman, Ust Abu Zubair Abdullah Al Majdi

2. Tabligh Akbar "Ancaman Syiah Terhadap Nusantara"
Bersama Dai dan Peneliti Syiah di Indonesia, Ust Tengku Azhar, Lc

Acara akan dimoderatori oleh Ust Lukman Al Azhar, Lc (Direktur PPTQ At Taqwa Nguter).

Acara akan digelar pada:
Kamis, 25 Desember 2014
Pukul 08.00 WIB - Selesai
Di Masjid At Taqwa Desa Karangasem, Kec. Bulu, Kab. Sukoharjo.


Nguter, PPTQ At-Taqwa- Jumat, 12 Desember 2014 menjadi hari yang istimewa karena Yayasan At-Taqwa, di mana PPTQ At-Taqwa bernaung di bawahnya, berkesempatan untuk menjamu tamu penting seorang pegiat antikristenisasi, H. Syamsuri, dalam suatu acara bernama, “Sarasehan-Sharing-Sinergi (S3) Menanggulangi Agenda Kristenisasi Indonesia 2020.”

Turut hadir di dalam acara tersebut adalah tokoh-tokoh penting umat Islam di kawasan Kecamatan Nguter dan Sukoharjo seperti Ust Qowi dari Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI), Ust Lukman Azhar, Lc (Mudir PPTQ At-Taqwa Nguter), Ust Tarwanto (Kepala Sekolah MI At-Taqwa Nguter) dan Ust Sukiyono (Ketua Yayasan At-Taqwa Nguter).

Di dalam kesempatan tersebut, dibahas mengenai kegiatan-kegiatan kristenisasi terkini yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya acara, topik pembicaraan mengerucut pada upaya menanggulangi kristenisasi di wilayah Kabupaten Sukoharjo dan sekitarnya.

“Apa ayat terakhir di dalam Quran? Ya, benar! Minal Jinnati Wan Naas. Artinya, Quran adalah satu-satunya kitab yang diturunkan untuk SEMUA manusia dan jin. Perhatikan lagi baik-baik, sepertiga Quran adalah untuk umat Islam. Nah, yang 2/3 Quran itu untuk siapa? Iya, benar! Untuk orang-orang nonmuslim. Jadi benar kita perlu menguatkan iman sesama muslim, tapi hendaknya jangan lupa kewajiban mendakwahi nonmuslim,” ujar H. Syamsuri dalam prolognya.

Menurut H. Syamsuri, secara kuantitas jumlah umat Islam di Indonesia telah mengalami penurunan. Belum pula jika ditambah dengan penurunan drastis dalam hal kualitas.

Di dalam database beliau, ditunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia saat ini hanya berkisar 87 persen, sedang jumlah umat Islam di kawasan Solo Raya sendiri berada di bawah angka tersebut, yakni 73 persen. “Artinya, kristenisasi di Solo Raya ini paling parah dibanding daerah-daerah lain di pulau Jawa,” imbuhnya.

Akan tetapi, H. Syamsuri menilai bahwa gencarnya upaya kristenisasi sedikit banyak memberi hikmah bagi dakwah di beberapa daerah. “Misalnya di Klaten, kini NU, Muhammadiyah, dan MTA, sudah bisa bergabung dan duduk bersama. Saya sodorkan ke mereka data dan angka, dan mereka mulai sadar untuk meninggalkan hal-hal khilafiyah untuk fokus pada membentengi aqidah umat,” jelasnya.


Menanggapi hal tersebut, mudir PPTQ At-Taqwa, Ust Luman Azhar, Lc, menghimbau agar pertemuan ini bukan hanya sekedar wacana-wacana, melainkan ada langkah-langkah riil untuk diterapkan di kehidupan nyata.

“Kami menyambut baik acara sarasehan pada siang hari ini, karena Allah sendiri menyebutkan dalam Al-Quran bahwa orang-orang kafir itu, satu dengan lainnya itu saling menguatkan. Dan sebagai orang Islam, kalau tidak melakukan hal serupa, takut akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar,” ujar Ust Lukman Azhar, Lc.

Ust Qowi dari Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) juga mengapresiasi acara tersebut karena menurut pengalaman dan pengamatannya, kristenisasi di Solo memang begitu gencar. “Jadi mereka (misionaris kristen) itu merangkul masyarakat yang enggan melepas budaya Jawa, sedang beberapa dari kita (dai umat Islam), begitu frontal menyerang budaya Jawa. Ketika terjadi benturan antara Islam dengan budaya Jawa, misionaris langsung datang ke mereka dan mengatakan bahwa Kristen siap menampung budaya Jawa. Hal itulah yang membuat Kristenisasi menjadi begitu marak.”

Di akhir acara, dihasilkan keputusan bahwa akan diadakan tindak lanjut atas pertemuan tersebut dengan lebih menitikberatkan pada langkah-langkah praktis, aplikatif, dan sesuai kaidah hukum yang berlaku di Indonesia.(Irfan/PPTQ At-Taqwa)
Diberdayakan oleh Blogger.