Liburan sering kali dianggap sebagai waktu “bebas” bebas dari tugas, bebas dari aturan, bahkan kadang bebas dari kebiasaan baik yang selama ini dijaga di pesantren. Padahal, sejatinya seorang santri tidak pernah benar-benar “libur” dari jati dirinya. Ia tetap santri, di mana pun dan kapan pun.

Rasulullah memberikan prinsip hidup yang sangat kuat dalam sebuah hadis:

اِتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik,” (Sunan At-Tirmizi: 1987)

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat حَيْثُمَا كُنْتَ bukan sekadar tempat, tetapi juga mencakup waktu:

فِي أَيِّ مَكَانٍ، وَأَيِّ زَمَانٍ كُنْتَ فِيهِ

“Di tempat mana pun dan di waktu kapan pun kamu berada,” (Tuhfatus Saniyah Syarh Arbain Nawawiyah li Khalid Mahmud Al Juhani)

Artinya, takwa itu tidak mengenal musim. Tidak hanya saat di pesantren. Tidak hanya saat diawasi ustaz. Tidak hanya saat hati sedang semangat. Tapi di mana saja; di rumah, di jalan, di media sosial; dan kapan saja, bahkan saat sendirian.

Allah juga berfirman:

وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal),” (QS. Al-Hijr: 99)

Ayat ini mengajarkan satu hal penting: ibadah itu tidak ada kata selesai. Tidak ada istilah “sudah cukup”. Tidak ada masa pensiun dari ketaatan. Selama nyawa masih di badan, selama itu pula kita adalah hamba, dan selama itu pula kita adalah santri.

Apa Itu “Santri Sepanjang Hayat”?

Menjadi santri sepanjang hayat bisa dipahami minimal dalam dua makna:

1. Menjadi Muslim yang benar, di mana saja dan kapan saja

Santri bukan hanya identitas saat memakai sarung dan peci di pesantren. Santri adalah orang yang:

-          Menjaga akidahnya tetap lurus

-          Menjaga salatnya tetap tegak

-          Menjaga akhlaknya tetap mulia

Ujian sebenarnya justru dimulai ketika kalian pulang. Ketika tidak ada yang mengingatkan. Ketika azan terdengar, tapi tidak ada yang mengajak ke masjid. Ketika HP di tangan, tapi tidak ada yang mengawasi.

Di situlah terlihat: apakah kita benar-benar santri, atau hanya “pernah menjadi santri”.

2. Menjadi penuntut ilmu syar’i sepanjang hidup

Santri juga berarti pelajar ilmu agama. Dan belajar itu tidak berhenti saat lulus.

-          Terus belajar, walau sedikit

-          Terus mengamalkan, walau belum sempurna

-          Terus berbagi ilmu, walau hanya satu ayat

Jangan sampai setelah keluar dari pesantren, Al-Qur’an yang dulu sering dibaca menjadi asing. Kitab yang dulu dibuka setiap hari menjadi berdebu. Majelis ilmu yang dulu dirindukan menjadi terasa berat.

Sebuah Kegelisahan

Sebagai pengajar, di antara yang membuat kami sedih adalah melihat alumni pesantren yang dulu salat, setelah lulus tidak lagi salat. Dulu akrab dengan masjid, kini menjauh. Dulu menjaga diri, kini terbiasa dengan maksiat.

Bukan karena tidak mampu. Tapi karena tidak menjaga.

Padahal ilmu sudah pernah masuk. Nasihat sudah sering didengar. Tinggal satu hal: apakah itu dijaga atau dilepas begitu saja?

Untuk Antum yang Masih Menjadi Santri PPTQ At-Taqwa

Kalian yang masih SMP atau SMA, justru sedang berada di masa paling penting. Kalian sedang membangun “versi diri kalian di masa depan”.

Coba tanyakan pada diri sendiri:

-          Apakah aku ingin tetap menjadi orang yang salat tepat waktu?

-          Apakah aku ingin tetap dekat dengan Al-Qur’an?

-          Apakah aku ingin menjadi orang yang menjaga diri dari maksiat?

Kalau jawabannya iya, maka jagalah dari sekarang. Karena kebiasaan hari ini akan menjadi karakter di masa depan.

Penutup

Menjadi santri bukan tentang tempat, tapi tentang komitmen. Bukan tentang masa, tapi tentang istiqamah.

Selama kita masih hidup, kita adalah santri.

Selama kita masih bernapas, kita sedang belajar.

Dan selama kita masih diberi kesempatan, kita sedang diuji: apakah kita tetap menjaga jalan ini, atau justru meninggalkannya.

Semoga Allah menjadikan kita semua santri yang tidak hanya kuat di pesantren, tapi juga kokoh di luar pesantren, hingga akhir hayat kita. Aamiin.

UJI PEMAHAMAN

Kerjakan 10 soal di tautan berikut untuk menguji pemahaman atas materi ini: 

https://gemini.google.com/share/3da4696545e7

Karangasem, 1 April 2026

Irfan Nugroho (Pengajar di PPTQ At-Taqwa Sukoharjo)