Santri adalah representasi ajaran Islam di tengah
masyarakat. Ilmu yang dipelajari di pesantren akan terlihat nilainya ketika ia
kembali hidup bersama masyarakat.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا﴾
Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang memberi
petunjuk dengan perintah Kami, (QS. Al-Anbiyā’: 73)
Imam Ath-Thabari Rahimahullah berkata:
أَيْ جَعَلْنَاهُمْ قُدْوَةً لِلنَّاسِ
فِي الْخَيْرِ يَقْتَدُونَ بِهِمْ
Yakni Kami jadikan mereka teladan dalam kebaikan yang
diikuti oleh manusia, (Tafsīr Ath-Ṭabarī: 18/473)
الأَخْلَاقُ الْقُرْآنِيَّةُ فِي التَّجَاوُرِ
Akhlak Qurani dalam Bertetangga
Seorang santri ketika hidup di tengah masyarakat harus
menjadi pribadi yang paling dirindukan oleh tetangganya karena akhlaknya yang
baik, bukan justru dihindari karena sikap atau perilakunya yang buruk.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ
وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ﴾
Sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu
pun… serta berbuat baiklah kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, (QS.
An-Nisā’: 36)
Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata:
أَمَرَ اللَّهُ بِالإِحْسَانِ إِلَى
الْجَارِ مُسْلِمًا كَانَ أَوْ كَافِرًا
Allah memerintahkan berbuat baik kepada tetangga, baik ia seorang Muslim maupun non-Muslim, (Tafsīr Al-Qurṭubī: 5/183)
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا
يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِي
لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Demi Allah tidak beriman! Demi Allah tidak beriman! Demi
Allah tidak beriman!
Beliau ﷺ ditanya: Siapa wahai
Rasulullah? Beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari
gangguannya.” (HR. Bukhari: 6016)
Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani Rahimahullah berkata:
فِيهِ تَغْلِيظُ تَحْرِيمِ أَذَى الْجَارِ
Hadis ini menunjukkan kerasnya larangan menyakiti tetangga, (Fathul
Bārī: 10/443).
اللِّينُ وَالأَدَبُ فِي الْكَلَامِ
وَالْمُعَامَلَةِ
Santun dalam Berbicara dan Bergaul
Seorang santri ketika berada di masyarakat harus menjaga
lisannya. Karena sering kali masyarakat menilai ilmu seseorang dari tutur
katanya, bukan dari banyaknya hafalan yang dia miliki. Jika santri tersebut
orang Jawa, gunakan bahasa krama inggil kepada orang tua di masyarakat. Atau
jika selain jawa, gunakan bahasa yang paling halus.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا﴾
Ucapkanlah kepada manusia perkataan yang baik, (QS.
Al-Baqarah: 83)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:
أَيْ كَلِّمُوا النَّاسَ كَلَامًا طَيِّبًا
لَيِّنًا
Yakni berbicaralah kepada manusia dengan ucapan yang lembut
dan baik, (Tafsīr Ibnu Katsīr: 1/214).
Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ
الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah
ia berkata baik atau diam, (HR. Muslim: 47).
Imam An-Nawawi Rahimahullah berkata:
هَذَا مِنْ أَعْظَمِ آدَابِ الْإِسْلَامِ
Ini termasuk adab terbesar dalam Islam, (Syarh Shahīh
Muslim: 2/18).
الْقُدْوَةُ فِي صَلَاةِ الْجَمَاعَةِ
Menjadi Teladan dalam Salat Berjamaah
Seorang santri ketika hidup di masyarakat harus menjadi
penggerak masjid. Kehadirannya dalam jamaah menjadi motivasi bagi warga
sekitar. Datang paling awal, pakai sarung, pakai baju muslim, pakai peci.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ﴾
Rukuklah kalian bersama orang-orang yang rukuk, (QS.
Al-Baqarah: 43).
Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata:
فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى فَضْلِ صَلَاةِ
الْجَمَاعَةِ
Ayat ini menunjukkan keutamaan salat berjamaah, (Tafsīr
Al-Qurṭubī: 1/239).
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar
Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ
صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Salat berjamaah lebih utama dibanding salat sendirian dengan
dua puluh tujuh derajat, (Sahih Bukhari: 645).
Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id Rahimahullah berkata:
فِيهِ حَثٌّ عَلَى إِظْهَارِ شَعِيرَةِ
الصَّلَاةِ
Hadis ini mendorong ditegakkannya syiar salat di tengah
masyarakat, (Ihkām Al-Ahkām: 1/190).
نَشْرُ السَّلَامِ وَالْخَيْرِ فِي الْمُجْتَمَعِ
Menebar Salam dan Kebaikan
Seorang santri ketika berada di masyarakat harus menjadi
pembuka kebaikan: memulai salam, menyambung ukhuwah, dan menghadirkan suasana
damai. Jangan malu untuk mengucapkan salam terlebih dahulu ketika bertemu
dengan orang yang lebih tua, “Mbah, assalamu’alaikum.”
Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
Sebarkanlah salam di antara kalian, (Sahih Muslim: 54).
Imam Qadhi ‘Iyadh Rahimahullah berkata:
جَعَلَ السَّلَامَ سَبَبًا لِلْمَحَبَّةِ
وَالْأُلْفَةِ
Rasulullah menjadikan salam sebagai sebab tumbuhnya cinta
dan persatuan, (Ikmāl Al-Mu‘lim: 1/304).
Penutup
Imam Ahmad meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ
الأَخْلَاقِ
Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia, (Musnad
Ahmad: 8952).
Imam Ibnu Rajab Rahimahullah berkata:
الدِّينُ كُلُّهُ خُلُقٌ
Agama seluruhnya adalah akhlak, (Jāmi‘ Al-‘Ulūm wal Hikam:
hlm. 224).
Oleh karena itu, jadilah santri yang memiliki akhlak yang
paling baik di masyarakat.
Karangasem, 2 Maret 2026
Irfan Nugroho (Pengajar di PPTQ At-Taqwa)

0 Komentar