Menjaga Pandangan dan Pergaulan di Masa Liburan
Oleh: Ust Dzaru Ady, S.Pd
Liburan adalah waktu yang sangat ditunggu oleh para santri. Setelah sekian lama belajar di pesantren, menghafal Al Qur'an, mengikuti pelajaran, serta menjalani berbagai kegiatan, akhirnya datang waktu untuk pulang ke rumah. Pada masa ini para santri dapat berkumpul dengan orang tua, saudara, dan teman-teman di kampung halaman.
Namun seorang santri harus selalu ingat bahwa dirinya adalah penuntut ilmu agama. Identitas sebagai santri tidak hilang hanya karena sedang liburan. Justru ketika berada di luar pesantren, seorang santri harus semakin menjaga akhlak dan perilakunya.
Salah satu hal penting yang harus dijaga oleh seorang santri ketika liburan adalah menjaga pandangan dan menjaga pergaulan.
Fitrah Remaja dan Pentingnya Pengendalian Diri
Masa remaja adalah masa yang penuh dengan perubahan. Pada masa ini seseorang mulai tumbuh menjadi dewasa. Perasaan menjadi lebih peka, rasa ingin tahu menjadi lebih besar, dan keinginan untuk bergaul dengan teman-teman juga semakin kuat.
Perasaan tertarik kepada lawan jenis juga merupakan bagian dari fitrah yang Allah ciptakan pada manusia. Hal ini adalah sesuatu yang wajar. Namun Islam tidak membiarkan manusia mengikuti semua keinginannya tanpa aturan. Islam mengajarkan agar setiap manusia mengendalikan dirinya dengan iman dan takwa.
Allah berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
(QS An Nur: 30)
Ayat ini menunjukkan bahwa menjaga pandangan adalah perintah langsung dari Allah. Dengan menjaga pandangan, hati seseorang akan menjadi lebih bersih dan lebih mudah untuk menjaga dirinya dari perbuatan dosa.
Rasulullah ﷺ juga pernah memberikan nasihat kepada sahabat Ali رضي الله عنه:
يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ
"Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan dengan pandangan berikutnya. Bagimu pandangan pertama, tetapi tidak bagimu pandangan yang berikutnya."
(HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadits ini mengajarkan bahwa terkadang seseorang bisa melihat sesuatu secara tidak sengaja. Pandangan pertama yang terjadi tanpa sengaja masih dimaafkan. Namun seorang muslim tidak boleh sengaja mengulangi atau menikmati pandangan yang haram.
Batasan Pergaulan dalam Islam
Ketika berada di rumah, seorang santri biasanya akan bertemu banyak orang. Ia bisa bertemu teman masa kecil, teman sekolah, tetangga, atau orang-orang di lingkungan sekitar.
Pergaulan seperti ini tentu tidak dilarang. Namun Islam memberikan batasan agar pergaulan tidak membawa kepada dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ الشَّيْطَانُ ثَالِثَهُمَا
"Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali setan menjadi yang ketiga di antara mereka." (HR Tirmidzi)
Hadits ini mengingatkan bahwa berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram dapat membuka pintu godaan setan. Karena itu seorang santri harus berhati-hati dalam bergaul.
Para ulama juga menjelaskan bahwa banyak dosa bermula dari pandangan yang tidak dijaga.
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:
النَّظَرُ أَصْلُ أَكْثَرِ الْحَوَادِثِ الَّتِي تُصِيبُ الْإِنْسَانَ
"Pandangan adalah asal dari kebanyakan peristiwa yang menimpa manusia."
Maksudnya adalah bahwa banyak kesalahan dan dosa yang awalnya hanya berasal dari pandangan yang tidak dijaga.
Menjaga Izzah Sebagai Santri
Seorang santri memiliki kedudukan yang mulia di tengah masyarakat. Ia dikenal sebagai penuntut ilmu agama, bahkan mungkin sebagai penghafal Al Qur'an. Oleh karena itu, sikap dan perilakunya akan selalu diperhatikan oleh orang lain.
Jika seorang santri berakhlak baik, maka masyarakat akan merasa senang dan semakin menghormati para santri. Namun jika seorang santri berperilaku buruk, maka citra santri juga bisa ikut tercoreng.
Karena itu para ulama sangat menekankan pentingnya adab bagi penuntut ilmu.
Imam Malik رحمه الله berkata:
تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
"Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu."
Perkataan ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu tidak hanya harus pandai, tetapi juga harus memiliki akhlak yang baik dan sikap yang terjaga.
Liburan Tetap Dalam Koridor Takwa
Liburan bukan berarti libur dari ketaatan kepada Allah. Seorang santri tetap harus menjaga ibadahnya. Ia tetap menjaga shalat lima waktu, membaca Al Qur'an, menghormati orang tua, dan menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah.
Allah berfirman:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
(QS Al Baqarah: 197)
Ayat ini mengajarkan bahwa dalam setiap keadaan seorang muslim harus membawa bekal takwa. Takwa inilah yang akan menjaga seseorang dari perbuatan dosa, baik ketika berada di pesantren maupun ketika sedang berada di rumah.
Jika seorang santri mampu menjaga dirinya ketika sedang jauh dari pengawasan para ustadz, maka itu adalah tanda bahwa ilmu yang ia pelajari telah masuk ke dalam hatinya.
Penutup
Masa liburan seharusnya menjadi kesempatan untuk memperkuat iman dan memperbaiki diri. Seorang santri harus berusaha menjaga pandangan, menjaga pergaulan, dan menjaga kehormatan dirinya sebagai penuntut ilmu.
Dengan demikian, liburan tidak hanya menjadi waktu untuk bersenang-senang, tetapi juga menjadi waktu untuk menambah pahala dan memperkuat ketakwaan kepada Allah.
Pertanyaan Pemahaman
1. Mengapa seorang santri harus tetap menjaga akhlaknya ketika sedang liburan?
2. Apa yang dimaksud dengan fitrah remaja dalam pembahasan di atas?
3. Apa perintah Allah dalam QS An Nur ayat 30?
4. Mengapa menjaga pandangan dapat menjaga kesucian hati?
5. Apa maksud hadits Nabi kepada sahabat Ali tentang pandangan?
6. Mengapa Islam melarang khalwat?
7. Apa maksud perkataan Ibnul Qayyim tentang pandangan?
8. Mengapa seorang santri harus menjaga izzah atau kehormatannya?
9. Apa maksud perkataan Imam Malik tentang adab sebelum ilmu?
10. Bagaimana cara seorang santri menjaga takwa selama masa liburan?
0 Komentar