Halloween party ideas 2015


Oleh Syeikh Abdullah Nashih Ulwan
Apabila hati kedua orang tua mencerminkan perasaan yang jujur berupa kecintaan dan kasih sayang kepada anak, maka hendaknya perasaan itu tidak menghalanginya dari berjihad di jalan Allah, serta menyampaikan seruan Allah di muka bumi. Sebab, kepentingan Islam harus didahulukan dari yang lainnya. Dan karena merealisasikan terbentuknya masyarakat yang Islami adalah tujuan seorang mukmin, dan sasaran hidupnya dan karena sesungguhnya memberikan petunjuk kepada manusia adalah usaha tertinggi seorang muslim dan yang paling ia maksimalkan dalam menyebarkannya.

Demikianlah yang dipahami generasi pertama dari kalangan Sahabat Rasulullah dan yang mengikuti jejaknya dengan baik. Mereka tidak mengenal suatu pergerakan selain jihad, dan seruan kecuali dakwah, dan tujuan selain Islam. Tidak aneh bila kita mendengar mereka yang besar di dalam kancah dakwah Islamiyah dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi penuh dengan pengorbanan di jalan tersebut dan besarnya cita-cinta mereka untuk meraih kesyahidan di jalan Allah.

Simaklah apa yang dikatakan oleh sahabat Ubadah bin Shamit ketika berhadapan dengan penguasa Mesir, yaitu Raja Muqauqis yang mengancamnya dengan kekuatan pasukan Romawi dan membujuknya dengan harta dan dinar, “Janganlah kalian menipu diri kalian sendiri dan sahabat-sahabat Anda. Anda menakut-nakuti kami dengan kekuatan Romawi yang berjumlah banyak. Anda juga mengatakan bahwa kami tidak akan mampu mengalahkan mereka. Demi usiaku, sungguh, bukan itu yang membuat kami takut dan bukan pula kematian, jika yang kamu katakan itu memang benar.

“Dalam hal ini, kami berada dalam salah satu dari dua kebaikan. Apabila kami dapat mengalahkanmu, maka kami akan mendapatkan keuntungan di dunia. Atau, jika kamu dapat mengalahkan kami maka kami akan mendapatkan keuntungan di akhirat. Dan sesungguhnya Allah telah menyatakan di dalam firmanNya:

...Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabat,” (QS Al-Baqarah: 249).

“Tak ada seorang pun di antara kami ini kecuali ia berdoa kepada Rabbnya di waktu pagi dan sore hari agar dapat gugur di jalan Allah, agar Allah tidak mengembalikannya ke kampung halaman dan negerinya. Tidak ada di antara kami yang mempunyai keinginan untuk kembali kepada keluarganya dan anaknya. Sebab, setiap orang di antara kami telah menitipkan keluarga dan anaknya kepada Rabbnya. Kami hanya memiliki tujuan berjihad di jalan Allah dan meninggikan kalimat-kalimatNya. Adapun jika Anda mengatakan bahwa kehidupan kami ini sempit, maka sesungguhnya kami lebih lapang. Dan sekiranya dunia ini milik kami seluruhnya, maka kami pun tidak akan mengambilnya lebih banyak dari yang kami perlukan.”

Inilah sikap seorang Ubadah bin Shamit Radhiyallahuanhu yang hanya satu dari seribu sikap mulia dari para leluhur kita yang mulia pada rentang sejarah yang panjang. Dan tidaklah semua pengorbanan mereka semua ini dan prioritas cintanya mereka kepada jihad dan dakwah mengalahkan cintanya mereka kepada anak dan keluarga, rumah dan kerabat. Mereka selalu merenungkan firman Allah:

“Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik,” (QS At-Taubah: 24).

Berikut adalah perkataan mulia yang pernah disampaikan oleh Imam Asy-Syahid Hassan Al-Banna Rahimahullah, tatkala beliau menginspeksi para pemuda yang berdakwah kepada Allah di setiap kejadian dan kondisi. Saat beliau hendak keluar untuk urusan tersebut, anaknya yang bernama Saiful Islam jatuh sakit keras yang hampir merenggut nyawanya. Maka berkatalah sang istri kepada beliau, “Sekiranya engkau bisa menyempatkan tinggal sejenak bersama kami dan duduk di samping anakmu yang sedang sakit.”

Beliau menjawab sambil membawa tas di tangannya, “Jika Allah menganugerahi kesembuhan kepada anakku maka segala puji bagi Allah atas pemberianNya, tetapi jika ia ditakdirkan untuk mati, maka kakeknya lebih mengetahui jalan ke kubur.” Kemudian beliau berlalu sambil membaca firman Allah:

“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak...” (QS At-Taubah: 24).

Allah Akbar! Itulah hendaknya semboyan di dalam meninggikan kalimat Allah. Demikian juga pula seorang dai harus bersikap. Sekiranya para pendahulu kita dan pengemban amanah dakwah berbekal sikap mulia seperti ini, maka cukuplah untuk mengekalkan kemuliaan dan ketinggian sepanjang masa.

Wahai para orang tua yang beriman, haruslah yang namanya kecintaan kepada Islam, jihad dan dakwah kepada Allah itu menguasai hatimu dan hati keluargamu. Kecintaan tersebut harus lebih didahulukan daripada kecintaan kepada keluarga, anak, dan kerabat, sehingga Anda dapat bertolak menuju dakwah dan mengusung panji jihad. Mudah-mudahan Anda termasuk orang-orang yang membangun kemegahan Islam dengan tekad yang kuat. Semua itu tidaklah sulit bagi Allah.

Simak pula apa yang menjadi sabda dari Rasulullah kepada orang-orang yang hendak menyempurnakan keimanannya, yang ingin merasakan manisnya iman dari hati yang paling dalam, dan mengenyam lezatnya iman, jauh di dalam rongga dadanya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dari Anas bin Malik Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah bersabda:

Tiga hal yang manakala seseorang berada di salah satu darinya, maka ia akan mendapatkan manisnya iman; hendaknya Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada selainnya, tidaklah mencintai seseorang kecuali karena Allah, dan membenci jika dikembalikan kepada kekafiran sebagaimana ia takut diemparkan ke dalam neraka.

Diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari, bahwa Umar bin Khattab Radhiyallahuanhu berkata kepada Nabi , “Sesungguhnya engkau, wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri yang berada di antara kedua sisiku.”

Maka beliau menjawab, “Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sebelum kaliam mencintai aku melebihi cinta kalian kepada diri mereka sendiri.”

Umar Radhiyallahuanhu lalu berkata, “Demi zat yang telah menurunkan Al-Kitab kepadamu, sungguh engkau lebih aku cintai daripada diriku yang berada di antara kedua sisiku.”

Nabi menjawab, “Sekarang (telah sempurna imanmu), wahai Umar.

Disebutkan di dalam Ash-Shahihah, bahwa Rasulullah bersabda:

Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia menjadikan hawa nafsunya (keinginannya) mengikuti apa yang di datangkan kepadaku (wahyu).

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah bersabda:

Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga aku menjadi yang paling kalian cintai daripada hartanya, anaknya, dan manusia semuanya.

Sumber:
Ulwan, Abdullah Nashih. 2012. Pendidikan Anak dalam Islam. Solo: Insan Kamil. Hal. 30-33
Diberdayakan oleh Blogger.