Halloween party ideas 2015


Orang Jawa menyebutnya bulan ruwah. Diambil dari kata 'arwah'. Sebagian meyakini bahwa Sya'ban adalah bulan di mana para arwah mengunjungi keluarga untuk menunggu 'kiriman'. Mungkin karena keyakinan inilah, bulan Sya'ban menjadi bulan istimewa bagi sebagian orang untuk mengunjungi kuburan para pendahulunya.

Ada yang memilih untuk melaksanakannya secara sendiri-sendiri. Sebagian lagi melakukan secara berjama'ah, dikoordinir oleh ketua adat atau malah imam masjid. Mereka pergi ke kuburan dengan membawa 'kiriman' yang disimbolkan dengan nasi kenduri yang berbentuk kerucut seperti gunung, lengkap dengan ayam utuh yang telah dimasak. Inilah yang biasa disebut juga dengan tradisi "nyadran". Sebagian mengira tradisi tersebut berasal dari Islam, karena rata-rata tradisi semacam ini dipimpin imam masjid. Juga dibumbui dengan doa yang diamini oleh yang hadir.

Perkembangan berikut, tak hanya kuburan orangtua atau keluarganya yang dikunjungi. Tapi juga kuburan orang-orang terkenal yang dianggap punya kelebihan. Tujuannya pun beraneka ragam. Dari yang sekedar ikut-ikutan, hingga mereka yang melakukan kesyirikan karena mengagungkan dan meminta kepada penghuni kubur. Begitulah, satu langkah menuju penyimpangan akan terus berjalan menuju penyimpangan yang makin jauh.

Tak Ada Kaitan
Tak ada secuil dalil yang membenarkan keyakinan bahwa secara khusus para arwah menunggu kiriman di bulan Sya'ban. Apalagi sempat pulang menengok keluarganya. Tak ada kaitan khusus antara bulan Sya'ban dengan nasib orang yang telah mati.

Berangkat dari keyakinan yang tak berdalil ini, wajar jika lahir amaliyah bid'ah yang jauh dari tuntutan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi melarang umatnya menjadikan kuburnya sebagai 'id,

َلَا تَتَّخِذُوا قبري عيدا
"Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai tempat ied." (HR. Abu Dawud)

Yakni tempat perayaan yang dikunjungi pada waktu khusus secara rutin. Untuk kuburan selain Nabi tentu lebih dilarang.

Meskipun dianggap sebagai tradisi Islam, nyadran maupun selamatan di bulan Sya'ban bukanlah cerminan ibadah yang berpahala, bahkan sebagai bid'ah yang mengundang dosa. Karena ibadah itu diterima dengan dua syarat, ikhlas dan mutaba'ah (mengikuti sunnah Nabi). Ikhlas adalah beribadah karena Allah. Sedangkan penjelasan mutaba'ah, dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, "Suatu ibadah tidak dikatakan mutaba'ah kecuali jika menyepakati syariat dalam enam hal, yakni sebab dilakukannya amal, kadarnya, tata caranya, jenisnya, waktu maupun tempatnya."

Padahal tak ada dalil yang menyebutkan bahwa bulan Sya'ban menjadi sebab disyariatkan ibadah tertentu. Tidak dikenal pula di dalam Islam jenis ibadah yang bernama nyadran, tidak pula mengenal tata cara seperti yang dilakukan dalam tradisi tersebut. Tidak pula terdapat keterangan keutamaan waktu dan tempat untuk melakukan ritual tersebut.*

*Sumber: Majalah Ar-Risalah No. 51/ Th. V Rajab - Sya'ban 1426 H/ September 2005 M.
Diberdayakan oleh Blogger.